Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pasca Bank Indonesia (BI) merilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang berada di zona defisit.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup terdepresiasi 0,13% di angka Rp15.970/US$ pada hari ini, Senin (20/5/2024). Pelemahan rupiah ini sejalan dengan depresiasi yang terjadi kemarin (17/5/2024) yakni sebesar 0,19%.

Sementara DXY pada pukul 14:57 WIB naik ke angka 104,46 atau menguat tipis 0,02%. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan penutupan kemarin yang berada di angka 104,44.



BI telah merilis data NPI dan termasuk transaksi berjalan dan terpantau kedua data tersebut berada di teritori negatif.

BI melaporkan NPI pada kuartal I-2024 defisit US$6 miliar. Begitu juga dengan transaksi berjalan defisit US$2,2 miliar atau 0,6% PDB.

Transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2024 mencatat defisit US$2,3 miliar, setelah pada triwulan sebelumnya mencatat surplus US$11,1 miliar. Hal ini dipengaruhi oleh defisit investasi portofolio, terutama didorong aliran keluar modal asing pada surat utang domestik seiring peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global.

Defisit yang terus terjadi khususnya transaksi berjalan selama empat kuartal beruntun ini cukup dikhawatirkan pelaku pasar karena rupiah akan terus mengalami tekanan sehingga BI akan terus mengerek suku bunga.

Bila suku bunga meningkat, maka aktivitas ekonomi bisa diperlambat. Harapannya impor barang bisa turun dan mengurangi beban pada transaksi berjalan.

Selain itu, pelaku pasar juga masih menunggu hasil dari pertemuan Federal Open Meeting Committee (FOMC) minutes yang akan diselenggarakan pada Rabu (22/5/2024) oleh bank sentral AS (The Fed).

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


BI Bakal Rilis Suku Bunga Besok, Rupiah Siap Ngegas?


(rev/rev)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *