Jakarta, CNBC Indonesia – Pemilik Grup Barito Pacific, Prajogo Pangestu telah menyentuh lebih dari Rp 1.000 triliun. Kini, raja Petrokimia tersebut pun menyabet medali orang terkaya ke-24 di dunia.

Melansir laporan Forbes, dikutip Sabtu (18/5/2024), pria berusia 79 tahun ini memiliki kekayaan bersih sebanyak US$ 71,1 miliar atau Rp1.134 triliun.

Harta tersebut lebih besar dari gabungan harta kekayaan Hartono bersaudara Bos Djarum-BCA yang totalnya mencapai US$ 48 miliar. Bahkan jika harta orang kedua terkaya RI bos batu bara pemilik Bayan Resources (BYAN) Low Tuck Kwong (US$ 26,2 miliar) digabung dengan duo Hartono, harta Prajogo hanya sedikit lebih kecil.

Kekayaan Prajogo pada awal 2024 ini naik drastis hingga 1.154% dibandingkan kekayaannya pada 2023 lalu. Tahun lalu, harta Prajogo sudah mencapai US$5,3 miliar.

Melonjaknya harta Prajogo setahun terakhir ditopang oleh kenaikan harga saham-saham perusahaan yang dimilikinya. Di antaranya PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).

Awal Perjalanan Bisnis Prajogo Pangestu

Prajogo Pangestu sukses mengumpulkan pundi-pundi kekayaan meski orang tua berprofesi sebagai pedagang karet ini dan hanya bisa mengenyam pendidikan tingkat menengah pertama karena keterbatasan ekonomi keluarganya.

Lahir dan besar di Kalimantan, Prajogo mendapat pekerjaan sebagai sopir angkutan umum jurusan Singkawang-Pontianak. Ia juga membuka usaha kecil-kecilan dengan menjual bumbu dapur dan ikan asin.

Di sela-sela pekerjaan itu, Prajogo bertemu dengan seorang pengusaha kayu asal Malaysia, bernama Burhan Uray. Dari pertemuan itu, pada 1969 Prajogo lantas memutuskan bergabung di perusahaan milik Burhan, yakni PT Djajanti Grup.

Lantaran etos kerja yang tinggi, Prajogo pun berhasil mendapatkan jabatan General Manager Pabrik Plywood Nusantara setelah tujuh tahun mengabdi pada grup yang menaunginya tersebut.

Hanya setahun saja Prajogo menjabat sebagai GM Djajanti Group. Ia putuskan resign dan membeli sebuah perusahaan yang sedang krisis finansial. Nama perusahaan tersebut adalah CV Pacific Lumber Coy.

Prajogo meminjam sejumlah dana pada sebuah bank untuk membeli perusahaan kayu ini. Hebatnya, ia dapat mengembalikan pinjaman tersebut hanya dalam kurun waktu satu tahun. Perusahaan inilah yang kemudian berubah nama menjadi PT Barito Pacific. Pada masa orde baru, perusahaan ini maju pesat menjadi perusahaan kayu terbesar di Indonesia.

Namun kesuksesan ini tidak menghentikan langkah Prajogo untuk terus berkembang. Selanjutnya, ia melakukan ekspansi bisnis dengan mendirikan PT Chandra Asri Petrochemical Center dan PT Tri Polyta Indonesia Tbk.

Perusahaannya Barito Pacific Timber telah melakukan go public pada tahun 1993 dan berganti nama menjadi Barito Pacific setelah mengurangi bisnis kayunya pada 2007.

Pada 2007 Barito Pacific mengakuisisi 70% dari perusahaan petrokimia Chandra Asri, yang juga diperdagangkan di BEI. Pada 2011 Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Thaioil mengakuisisi 15% saham Chandra Asri pada Juli 2021.

Pada 2023, Prajogo juga telah membawa dua perusahaannya, CUAN dan BREN, melantai di bursa RI.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Salip Prajogo, Hartono Bersaudara Rebut Takhta Orang Terkaya RI


(luc/luc)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *