Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau kembali bergairah pada perdagangan sesi I Rabu (15/5/2024), setelah kemarin ditutup di zona merah.

Per pukul 10:31 WIB, IHSG berhasil melesat 1,26% ke posisi 7.173,01. IHSG berhasil kembali ke level psikologis 7.100 pada sesi I hari ini. Bahkan, IHSG semakin dekati kembali level psikologis 7.200.

Nilai transaksi indeks pada perdagangan sesi I hari ini sudah mencapai sekitar Rp 4,9 triliun dengan melibatkan 7,7 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 448.723 kali.

Secara sektoral, sektor bahan baku menjadi penopang terbesar IHSG di sesi I hari ini, yakni mencapai 1,42%.

Selain itu, beberapa saham menjadi penopang IHSG pada sesi I hari ini. Berikut daftarnya.


Dua emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu menjadi penopang terbesar IHSG di sesi I hari ini, yakni saham eneri baru terbarukan (EBT) PT Barito Renewables Energi Tbk (BREN) yang mencapai 29,5 indeks poin dan saham petrokimia PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar 22,6 indeks poin.

Pergerakan IHSG di awal sesi I hari ini cenderung berlawanan dengan kondisi IHSGkemarin yang terlihat volatil dan berakhir di zona merah.

IHSG cenderung bergairah meski data inflasi produsen (producer price index/PPI) Amerika Serikat (AS) periode April 2024 masih cukup panas dan pernyataan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang mengindikasikan akan memberlakukan kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu yang lama atau higher for longer.

Semalam, PPI AS meningkat lebih dari yang diharapkan pada April 2024, didorong oleh kenaikan tajam dalam biaya jasa dan barang, menunjukkan bahwa inflasi tetap tinggi di awal kuartal II-2024.

PPI Negeri Paman Sam pada bulan lalu naik 0,5% periode April setelah turun sebesar 0,1% pada Maret lalu, berdasarkan data dari US Bureau of Labour Statistics.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), PPIAS meningkat 2,2% pada April, dari sebelumnya yang tumbuh 1,8% pada Maret 2024.

Ekonom yang disurvei olehReutersmemperkirakan PPI AS akan naik 0,3%. Secara tahunan,PPI meningkat 2,2% lebih tinggi dibanding periode Maret sebesar 1,8%.

Setelah PPI, AS akan mengumumkan data inflasi konsumen (consumer price index/CPI) April 2024 pada malam nanti waktu Indonesia. Sebagai catatan, CPIAS menembus 3,5% (yoy) pada Maret 2024. Jika inflasi masih panas maka pemangkasan suku bunga semakin lama.

Pasar keuangan masih mengharapkan bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk memulai siklus pelonggaran pada September 2024, meskipun beberapa ekonom percaya pemotongan suku bunga pertama bisa terjadi pada bulan Juli

Sebelumnya, Ketua The Fed Jerome Powell kembali mengatakan bahwa inflasi AS melandai lebih lambat daripada yang dia perkirakan. Dengan alasan itu pula, The Fed kemungkinan besar

“Kami tidak memperkirakan ini akan mudah. Namun, inflasi melaju lebih tinggi dibandingkan yang kami perkirakan. Ini membuat kita harus bersabar dan membiarkan kebijakan yang terbatas bekerja,” tutur Powell dalam pidatonya di acara Foreign Bankers’ Association di Amsterdam, Belanda.

Namun, Powell juga kembali menegaskan jika The Fed tidak akan menaikkan suku bunga kembali tahun ini.

The Fed mengerek suku bunga sebesar 525 basis poin (bp) sejak Maret 2022 hingga Juli 2023. Mereka kemudian menahan suku bunga di level 5,25-5,50% pada September, November, Desember 2023, Januari 2024, Maret 2024, dan Mei 2024.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


IHSG Pepet Lagi Level 7.200-an, 8 Saham Ini Jadi Penopangnya


(chd/chd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *