Jakarta, CNBC Indonesia – AJB Bumiputera 1912 hendak melakukan downsizing dengan cara menjual aset. Hal ini dilakukan untuk mengonversi fixed asset menjadi aset likuid untuk menambah kas perusahaan. 

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun (PPDP) OJK Ogi Prastomiyono mengatakan Bumiputera hendak menjual aset yang tidak terkait langsung oleh perusahaan. 

Hal itu disampaikan kepada OJK dalam diskusi terakhir dengan pemangku kepentingan AJB Bumiputera, yakni rapat umum anggota, Badan Perwakilan Anggota, dewan komisaris, dan juga dewan direksi.

Ogi mengatakan penjualan aset dilakukan untuk membiayai operasional termasuk pembayaran klaim yang sudah jatuh tempo. “Dari rapat terakhir alokasi dari pada konversi fixed asset menjadi aset likuid menjadi 50% digunakan untuk membayar klaim jatuh tempo,” katanya dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK April 2024, dikutip Rabu (15/5/2024).

Selanjutnya pembayaran premi klaim yang jatuh tempo akan dilakukan kepada semua pemegang polis yang jatuh tempo dengan pembayaran yang sama.

Mengutip laporan keuangan Bumiputera, per Maret 2024 perusahaan memiliki utang klaim Rp 8,06 triliun, naik 19,62% secara tahunan (yoy). Perusahaan juga tercatat telah membayar klaim senilai Rp 1,02 triliun.

Adapun ekuitas Bumiputera minus Rp 4,02 triliun, semakin anjlok dibandingkan dengan Maret 2023 yang sebesar Rp 3,23 triliun. 

Pada periode yang sama, Bumiputera memiliki total aset Rp 10,44 triliun. Sebanyak 64,59% di antaranya atau Rp 6,74 triliun merupakan investasi yang mayoritasnya adalah bangunan dengan hak strata atau tanah dengan bangunan untuk investasi.

Lalu Rp 3,68 triliun merupakan aset bukan investasi. Bangunan dengan hak strata atau tanah dengan bangunan menyumbang 72,42%, setara Rp 2,68 triliun. 

Sementara itu, AJB Bumiputera mencatat kerugian yang semakin parah pada tiga bulan pertama 2024. Merujuk pada laporan keuangan terbaru, rugi periode berjalan perusahaan asuransi ini per Maret 2024 tercatat sebesar Rp272,78 miliar, turun 11,5% yoy.

Dari sisi top line, perusahaan membukukan pendapatan premi sebesar Rp108,6 miliar, turun 57,7% yoy. Dengan demikian, pendapatan premi neto sebesar Rp108,35 miliar.

Pada periode yang sama jumlah beban terdepresiasi menjadi Rp 539,25 miliar dari sebelumnya Rp 559 miliar. Beban ini banyak disumbang oleh beban klaim sebesar Rp 457,75 miliar.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


AJB Bumiputera Masih Kusut, Server Masalah & Jualan Aset Mandek


(mkh/mkh)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *