Jakarta, CNBC Indonesia – Investor dibuat kecewa, bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street jatuh pada awal perdagangan hari ini. Kompaknya penurunan pasar Wall Street didorong dari kenaikan imbal hasil Treasury Amerika Serikat (AS) 10 tahun yang melonjak ke level 4,48%. Kenaikan tersebut menyeret penurunan saham-saham megacap di AS.

Pada perdagangan Rabu (8/5/2024), Dow Jones dibuka melemah 0,17% di level 38.818,90, begitu juga dengan S&P 500 dibuka lebih rendah atau turun 0,38% di level 5.167,77, dan Nasdaq ikut dibuka terdepresiasi 0,65% di level 16.226,07.

Indeks saham AS melemah pada hari Rabu, terseret oleh kerugian yang dialami Tesla dan Uber, sementara rebound dalam imbal hasil Treasury AS 10 tahun semakin menekan saham-saham megacap karena investor mencari kejelasan mengenai jalur suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Saham Uber (UBER.N) jatuh 8% setelah platform pemesanan kendaraan tersebut memperkirakan pendapatan kotor kuartal kedua di bawah ekspektasi dan membukukan kerugian kuartal pertama yang mengejutkan.

Kemudian saham Tesla (TSLA.O) turun 3% setelah Reuters melaporkan bahwa jaksa AS sedang memeriksa apakah perusahaan tersebut melakukan penipuan sekuritas atau penipuan dengan menyesatkan investor dan konsumen tentang kemampuan self-driving kendaraan listriknya.

Di antara saham-saham megacap lainnya, Microsoft (MSFT.O), Nvidia (NVDA.O) dan Alphabet (GOOGL.O) turun antara 0,3% dan 1,1%, menyusul kenaikan imbal hasil Treasury 10 tahun setelah lima hari penurunan.

Sementara itu, menurut alat Fedwatch CME Group, para pelaku memperkirakan 65% peluang bank sentral AS memangkas suku bunga setidaknya 25 basis poin pada bulan September, naik dari sekitar 54% pada minggu lalu.

Investor akan memantau dengan cermat komentar dari pembicara The Fed yakni Wakil Ketua Philip Jefferson, Presiden Boston Susan Collins dan Gubernur Lisa Cook pada hari ini, untuk mendapatkan petunjuk baru mengenai rencana pelonggaran moneter bank sentral AS.

Selain itu, pasar juga menunggu pembacaan harga konsumen pada pekan depan untuk mengukur apakah inflasi AS sudah mereda. Hal ini akan menjadi acuan kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Panasnya Data Pekerja AS, Bikin Wall Street Makin Ambles


(saw/saw)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *