Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan RI tampaknya akan bergairah pada pergerakan hari ini, Senin (6/5/2024) lantaran tekanan eksternal kian mereda.

Melansir data Refintiiv, hingga akhir perdagangan pekan lalu, Jumat (3/5/2024) nilai tukar rupiah bertengger di Rp16.080/US$, menguat 0,62% dalam sehari. Apresiasi tersebut mengakumulasi penguatan sepanjang pekan sebesar 0,77%.

Penguatan rupiah sejalan dengan tekanan terhadap kekuatan indeks dolar AS (DXY) yang semakin mereda. Nampak dari DXY yang menjauhi level 106.

Yield US Treasury yang melandai juga menjadi pendorong rupiah. Pada akhir pekan, yield obligasi acuan AS juga terlihat melandai tiga hari beruntun dan menyentuh posisi 4,51%.


Meredanya indeks dolar AS dan Yield US Treasury salah satunya dipengaruhi oleh kondisi pasar tenaga yang mulai mendingin setelah data pekerjaan tercatat selain pertanian atau Non Farm Payroll (NFP) turun lebih dalam dari perkiraan.

Perlu dicatat, NFP periode April 2024 terpantau turun ke 167.000, lebih dalam dari perkiraan pasar sebesar 190.000 dan bulan sebelumnya sebesar 243.000 pekerjaan.

Ditambah juga dengan angka pengangguran yang meningkat menjadi 3,9% pada April 2024, dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,8%.

Hal tersebut potensi menjadi pemanis bagi pasar setelah pekan lalu banyak sentimen pesimis lantaran the Fed menahan suku bunga yang mengindikasikan bank sentral AS atau the Fed belum yakin terhadap sejumlah data yang ada saat ini.

Beralih ke dalam negeri, pada hari ini akan ada rilis pertumbuhan ekonomi kuartal I-2024 oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2024 diperkirakan hanya akan naik tipis meskipun ada momen Ramadan, kampanye, hingga pemilihan umum (pemilu).

Konsumsi rumah tangga diperkirakan masih menopang laju ekonomi Januari-Maret 2024 meskipun melandai. Belanja pemerintah juga diproyeksi akan mendongkrak ekonomi kuartal I-2024 sejalan dengan lonjakan belanja bantuan sosial dan belanja pegawai. Sebaliknya, investasi dan ekspor akan menekan pertumbuhan.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,09% (year on year/yoy) dan terkontraksi 0,86% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq) pada kuartal I-2024.

Sebagai catatan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,04 (yoy) dan 0,45% (qtq) pada kuartal IV-2023. Pada kuartal I-2023, ekonomi Indonesia juga tumbuh 5,04% (yoy).

Teknikal Rupiah

Tren pergerakan rupiah dalam basis waktu per jam kini mulai terlihat beralih dalam penguatan yang cukup kokoh setelah menembus ke bawah garis rata-rata selama 200 jam atau Moving Average/MA 200.

Support atau posisi penguatan paling dekat potensi teruji di Rp15.930/US$. Ini diambil berdasarkan garis lurus yang ditarik dari high candle 4 April 2024. Jika ini bisa disentuh, gap up jauh yang sempat terjadi pada 16 April 2024 potensi tertutup.

Di sisi lain, pelaku pasar juga patut mengantisipasi jika masih ada tekanan pelemahan dengan melihat resistance terdekat di Rp16.125/US$, ini merupakan garis yang bertepatan dengan MA200.




Pergerakan rupiah melawan dolar ASFoto: Tradingview
Pergerakan rupiah melawan dolar AS

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Inflasi AS Melandai, Rupiah Dibuka Menguat!


(tsn/tsn)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *