Jakarta, CNBC Indonesia – Volatilitas pergerakan rupiah tampaknya masih tinggi dalam melawan dolar pada pekan yang pendek ini.

Pasalnya, keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga dibarengi tekanan eksternal yang tinggi dari sejumlah data AS yang meleset prediksi hingga prospek pemangkasan suku bunga bank sentral AS atau the Fed semakin mundur.

Melansir dari Refinitiv, hingga akhir pekan lalu, Jumat (26/4/2024) rupiah ditutup di posisi Rp 16.205 atau melemah 0,12%. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah menjadi dua hari beruntun.


Depresiasi rupiah bahkan lebih kencang di pasar Non-Deliverable Market (NDF). Melansir google finance hingga perdagangan Minggu (28/4/2024) dolar kembali menembus Rp16.241/US$.

Pelemahan rupiah dipicu beberapa faktor mulai dari pesimisme pelaku pasar mengenai kebijakan suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed), ketegangan geopolitik, dan kaburnya dana asing.

Pasar semakin pesimis mengenai pemangkasan suku bunga di AS setelah data terbaru pengeluaran pribadi warga AS atau Personal Consumption Expenditures (PCE) masih kencang.

Kondisi ini membuat investor memilih kabur dari Emerging Markets, seperti Indonesia, dan kembali membeli aset berdenominasi dolar AS. Indeks dolar menguat ke 105,938 dan masih bergerak di kisaran 106 yang menjadi tertinggi dalam lima bulan terakhir.

AS mengumumkan laju PCE bulanan (month to month/mtm) stagnan di 0,3% tetapi secara tahunan (year on year/yoy) meningkat 2,7% pada Maret 2024. PCE inti stagnan di 2,8% (yoy) pada Maret 2024. Kondisi ini menandai masih membandelnya inflasi AS sehingga bisa menghalangi The Fed memangkas suku bunga.

Pada beberapa kesempatan sebelumnya, pejabat The Fed termasuk Chairman The Fed Jerome Powell mengindikasikan pemangkasan masih lama. Pasalnya, inflasi AS masih kencang.

Data PCE adalah pertimbangan utama The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Selain The Fed, nilai tukar rupiah juga jeblok karena derasnya capital outflow. Data Bank Indonesia berdasarkan transaksi 22-25 April menunjukkan investor asing mencatat jual neto sebesar Rp 2,47 triliun. Net sell terdiri dari jual neto Rp2,08 triliun di pasar SBN, jual neto Rp2,34 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp1,95 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Asing terus menerus meninggalkan pasar keuangan Indonesia dan mencatat net sell selama lima pekan beruntun. Investor asing tetap kabur dan membuat rupiah ambruk meskipun Bank Indonesia (BI) sudah mengerek suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 6,25% pada Rabu (24/4/2024).

Teknikal Rupiah

Secara teknikal dalam basis waktu per jam, sebenarnya sudah mulai bergerak sideways, akan tetapi dalam jangka panjang tren tetap melemah.

Melihat resistance terdekat atau posisi pelemahan yang potensial diuji dalam jangka pendek ada di Rp16.240/US$. Posisi ini didapatkan dari high candle intraday pada 22 April 2024 yang kemudian ditarik secara horizontal.

Sementara untuk posisi support atau area yang diperhatikan jika ada peluang pembalikan arah menguat berada di Rp16.160/US$ yang diambil berdasarkan garis rata-rata selama 100 jam atau Moving Average/MA 100.




Pergerakan rupiah melawan dolar ASFoto: Tradingview
Pergerakan rupiah melawan dolar AS

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Video: Bukan Dolar Yang Menguat Kencang, Ini Sebab Rupiah Anjlok Dalam


(tsn/tsn)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *