Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah ekonom bank-bank di Tanah Air memperkirakan, penguatan nilai tukar rupiah akan terjadi dalam waktu dekat, seiring dengan akan derasnya pasokan dolar Amerika Serikat (AS) akibat investor semakin percaya diri untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Keyakinan ini didasari dari potensi sudah mulai semakin pastinya kondisi stabilitas politik di dalam negeri, setelah Mahkamah Konstitusi (MK) selesai mengumumkan putusan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pemilihan Presiden 2024. Stabilitas politik menjadi salah satu sorotan utama investor jangka panjang.

“Karena kalau investor jangka pendek kan dia mungkin enggak berfikir politik. Tapi kalau investor jangka panjang dia akan lihat juga stabilitas politik bagaimana selain juga stabilitas ekonomi,” kata Kepala Ekonom BCA David Sumual kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (24/4/2024).

David mengatakan, stabilitas politik ini menjadi sorotan investor jangka panjang karena mereka sejak awal tahun cenderung bersikap wait and see untuk merealisasikan rencana investasinya di Indonesia. Ini termasuk investor dalam negeri seperti kalangan pelaku usaha yang sebetulnya memiliki gairah untuk melakukan ekspansi usaha melalui belanja modal atau capital expenditure.

“Ini datanya saya ambil dari perusahaan-perusahaan yang listing di bursa, ada lebih dari 900 itu kecenderungannya secara keseluruhan agregat menurun dari kuartal ke kuartal pada awal tahun,” ungkap David.

“Jadi kita berharap di semester II ini dengan ada kepastian (politik) juga capital expenditure nya, belanja modalnya makin meningkat, dan dana dari luar yang sifatnya jangka panjang bisa lebih deras lagi,” ucap David.

Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto juga memandang hal yang serupa. Menurutnya, stabilitas politik yang makin pasti di Indonesia, seiring dengan kuatnya indikator-indikator fundamental ekonomi seperti inflasi yang terjaga dan neraca perdagangan yang 47 bulan surplus dapat memberikan keyakinan kepada investor asing untuk berinvestasi di dalam negeri, ujungnya ialah pasokan dolar di dalam negeri akan menguat.

“Suplai untuk Dolar AS di dalam negeri juga sudah membaik dari kondisi neraca dagang yang surplusnya meningkat. Inflow juga diharapkan mulai kembali hadir, baik dari hot money atau Foreign Direct Investment seiring kondisi fundamental ekonomi dan politik domestik yang solid,” kata Myrdal.

Karena itu, Myrdal menganggap bahwa belum ada alasan bagi Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuannya saat ini, meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih terus bergerak di atas level Rp 16.200. Sebab, rupiah melemah saat ini beriringan dengan pelemahan nilai tukar mata uang asing lainnya akibat dolar Amerika Serikatnya yang terus menguat.

“Saya masih lihat belum ada urgensi bagi BI menaikkan BI Rate untuk saat ini. Apalagi tekanan global terhadap rupiah juga sudah mengendur. Sektor riil domestik saat ini sedang butuh bunga yang stabil atau malah menurun untuk mendukung aktivitasnya,” tutur Myrdal.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,09% di angka Rp 16.215/US$ pada hari ini (23/4/2024). Posisi ini selaras dengan penutupan perdagangan kemarin (22/4/2024) yang juga mengalami apresiasi 0,12%.

Sementara itu, DXY pada pukul 14:59 WIB turun ke angka 105,94 atau melemah 0,12%. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin yang berada di angka 106,07.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


BI Tahan Suku Bunga Lagi, Ini Keputusan Lengkapnya


(haa/haa)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *