Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan kondisi dunia saat ini sangat penuh dengan ketidakpastian. Seperti bagaimana situasi di Timur Tengah yang memanas.

“Kalau keadaan gini, merem aja mata bisa berubah tahu-tahu ada perang. Kayak kemarin tiba-tiba Israel menyerang konsulatnya Iran. Terus di-fireback lagi [oleh Iran]. Kan ini kita juga nggak tahu bagaimana ujung ceritanya nanti, ya,” kata Jahja saat konferensi pers kinerja BCA Kuartal I-2024 secara virtual, Senin (22/4/2024).

Maka dari itu, di tengah keadaan yang penuh dengan ketidakpastian, dibutuhkan suku bunga tinggi.

“Untuk ketidakpastian yang banyak, orang butuh bunga yang lebih tinggi. Nah, sebab itu Amerika juga nanti susah mau turunin bunganya cepat-cepat,” pungkasnya.

Jahja berpendapat bahwa penurunan suku bunga acuan global bahkan dilakukan pada bulan Mei atau Juni tahun ini. Menurutnya, suku bunga acuan mungkin baru akan diturunkan pada bulan Desember 2024 atau “lebih ekstrem” tahun depan.

“Kalau kita lihat tahun lalu di Amerika itu ada beberapa skenario. Mulai dari rencana mereka bulan Mei mungkin sudah ada cut rate, kemudian geser ke Juni akan ada rate cut juga Fed. Tetapi terakhir kalau yang saya dengar beritanya bahwa mereka melihat bahwa ekonomi Amerika sendiri cukup baik, unemployment juga terkendali hanya inflasi aja yang masih belum mencapai target 2%,” terangnya.

Maka dari itu, ia berpendapat bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) akan menunggu apakah bulan Desember dapat menurunkan suku bunga.

“Saya percaya bahwa [penurunan suku bunga] paling tidak tahun ini tidak dalam waktu singkat. Paling tidak Mei, Juni tidak akan, lah,” kata Jahja.

Ia juga berkomentar soal kemungkinan jika Bank Indonesia (BI) akan meningkatkan suku bunga acuan. Menurut Jahja, peningkatan suku bunga di BCA akan bergantung pada kondisi kas serta likuiditas bank swasta terbesar RI itu.

Ia menyebut salah satu ukuran likuiditas bank yakni rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) di BCA saat ini masih sekitar 71%. Kondisi ini masih lebih rendah dibanding kondisi industri perbankan yang sudah mencapai 80-82%.

“Artinya ketersediaan likuiditasnya memang harus betul-betul jeli untuk dimanfaatkan,” kata Jahja.

Namun begitu, permintaan kredit BCA meningkat hingga 17,1% secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2024 ini. Menurut Jahja, kebutuhan likuiditas BCA masih baik dan tidak perlu serta merta mengikuti suku bunga acuan.

“Kalau kita rasakan masih cukup, tentu hal ini kita tidak lakukan adjustment,” ujar Jahja.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Simak Saldo Minimal Tabungan BRI, BNI, Mandiri & BCA Terbaru


(ayh/ayh)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *