Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, kondisi perbankan di Indonesia tetap sehat, meskipun digempur oleh tekanan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah yang terjadi beberapa hari terakhir.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup naik 0,12% di angka Rp16.230/US$ pada hari ini (22/4/2024). Posisi ini berbanding terbalik dengan penutupan perdagangan kemarin (19/4/2024). Indeks dolar pada pukul 14:59 WIB turun ke angka 106,09 atau melemah 0,06%.

“Kondisi perbankan kuat, ratio alat likuiditas atau non core deposit dan DPK (dana pihak ketiga) masing-masing di atas 50% dan 10%,” kata Airlangga di kantornya, Jakarta, Senin (22/4/2024).

Airlangga mengatakan, dari sisi rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan juga masih kuat di tengah tekanan ekonomi global saat ini. CAR saat ini menurutnya masih di posisi 27,72% atau pada level tinggi untuk meredam fluktuasi nilai tukar rupiah maupun tren suku bunga tinggi.

“Secara historis posisi devisa neto juga 1%-5% dan utang luar negeri sekitar 6% dari total kewajiban perbankan, dan valas 15% dari kredit. Jadi valas relatif persentasenya jauh lebih kecil dari total kredit valas,” tutur Airlangga.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah mengumumkan hasil uji ketahanan atau stress test terhadap kondisi perbankan di Indonesia, ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah beberapa hari lalu, bahkan sempat bergerak di kisaran atas Rp 16.250 per dolar AS.

Stress test yang rutin OJK lakukan terhadap perbankan nasional itu dilakukan dengan menggunakan beberapa variabel skenario makroekonomi dan mempertimbangkan faktor risiko utama yaitu risiko kredit dan risiko pasar.

Berdasarkan hasil uji ketahanan (stress test) yang dilakukan OJK, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini relatif tidak signifikan berpengaruh langsung terhadap permodalan bank, terutama karena posisi devisa neto (PDN) perbankan RI masih jauh di bawah threshold dan secara umum dalam posisi PDN “long” atau aset valas lebih besar dari kewajiban valas.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan saat ini perbankan Tanah Air memiliki bantalan yang mumpuni. Terlihat dari rasio permodalan atau capital adequacy ratio (CAR) yang tinggi, sehingga mampu menyerap fluktuasi nilai tukar rupiah maupun suku bunga yang masih bertahan pada level yang relatif tinggi.

Selain itu porsi dana pihak ketiga (DPK) dalam bentuk valuta asing (valas) saat ini sekitar 15% dari total DPK perbankan. Hingga akhir Maret 2024, DPK valas masih tumbuh cukup baik secara tahunan (yoy) maupun dibandingkan dengan awal tahun 2024 (ytd).

OJK pun meminta bank untuk selalu melakukan pemantauan terkait potensi dampak transmisi dari perkembangan perekonomian global dan domestik terhadap kondisi bank dan melakukan langkah mitigasi yang diperlukan.

Koordinasi dengan Anggota KSSK juga terus dilakukan disertai komitmen untuk terus mengeluarkan kebijakan yang dibutuhkan secara tepat guna dan tepat waktu.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Perbankan dan Pinjol, Harus Bersaing atau Kolaborasi?


(haa/haa)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *