Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup kembali melemah pada perdagangan Rabu (17/4/2024), setelah sempat rebound nyaris 1% di awal sesi I hari ini.

IHSG ditutup melemah 0,47% ke posisi 7.130,84. Padahal di awal sesi I hari ini, IHSG sempat bangkit hingga nyaris 1%. Namun setelah itu, penguatan IHSG cenderung terpangkas.

Pada sesi II hari ini, IHSG sempat berusaha untuk bangkit kembali. Namun selang beberapa menit, IHSG akhirnya tetap gagal dan berakhir di zona merah.

Nilai transaksi indeks pada akhir perdagangan hari ini mencapai Rp 12 triliun dengan melibatkan 20 miliar lembar saham yang ditransaksikan sebanyak 1,5 juta kali.

Secara sektoral, sektor bahan baku menjadi penekan terbesar IHSG di akhir perdagangan hari ini yakni mencapai 2,48%.

Selain itu, beberapa saham juga terpantau menjadi penekan (laggard) IHSG pada akhir perdagangan hari ini. Berikut daftarnya.


Saham petrokimia milik konglomerat Prajogo Pangestu yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi penekan terbesar IHSG pada hari ini yakni mencapai 11,9 indeks poin.

IHSG cenderung terdampak dari rupiah yang masih terkoreksi hingga hari ini. Dilansir dariRefinitiv, rupiah ditutup turun 0,28% di angka Rp 16.215/US$ pada hari ini. Posisi ini merupakan yang terparah sejak 6 April 2020.

Sementara indeks dolar Amerika Serikat (AS) DXY pada pukul 15:03 WIB turun tipis ke angka 106,21 atau melemah 0,04%. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan Selasa kemarin yang berada di angka 106,25.

Rupiah yang kembali melemah dan tentunya berimbas ke IHSG terjadi setelah Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan perlu lebih banyak waktu untuk memastikan pemangkasan suku bunga.

Dalam diskusi panel di acara Washington Forum on the Canadian Economy, Washington, D.C. pada Selasa waktu AS (16/4/2024) ia mengatakan perekonomian AS belum melihat inflasi kembali sesuai target bank sentral yakni di kisaran 2%.

“Data yang lebih baru menunjukkan pertumbuhan yang solid dan kekuatan yang berkelanjutan di pasar tenaga kerja, namun juga kurangnya kemajuan lebih lanjut sepanjang tahun ini karena kembalinya target inflasi 2%,” kata Powell dikutip dariCNBC International.

Senada dengan pernyataan para pejabat bank sentral baru-baru ini, Powell mengindikasikan tingkat kebijakan saat ini kemungkinan besar akan tetap berlaku sampai inflasi mendekati target 2%.

“Data terbaru jelas tidak memberikan kita kepercayaan yang lebih besar, dan malah menunjukkan bahwa kemungkinan akan memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan untuk mencapai kepercayaan tersebut,” katanya dalam forum bank sentral.

Selain itu, masih panasnya situasi di Timur Tengah membuat pasar kembali wait and see dan berujung kembali terkoreksinya IHSG meski sempat bangkit.

Ketegangan di Timur Tengah akan meningkatkan ketidakpastian global sehingga investor menahan diri atau memilih instrument aset aman atau safe haven.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


IHSG ‘Kebakaran’ Lagi, 8 Saham Big Cap Ini Biang Keroknya


(chd/chd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *