Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah ambles terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah memanasnya perang Iran dan Israel. Selain itu tercatat aliran dana asing mengalir keluar dari pasar keuangan domestik.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup anjlok 2,08% di angka Rp16.170/US$. Posisi ini merupakan yang terparah sejak 6 April 2020.

Sementara DXY pada pukul 14:54 WIB naik ke angka 106,31 atau menguat 0,1%. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin (15/4/2024) yang berada di angka 106,2.



Ketegangan di Timur Tengah antara Iran dan Israel terpantau memberikan kekhawatiran tersendiri bagi pelaku pasar.

Sebagai informasi, Iran melakukan serangan udara ke Israel pada Sabtu malam (13/4/2024) dengan meluncurkan drone peledak dan menembakkan 300 rudal untuk membela diri atas upaya Negara Yahudi itu yang ingin memperluas eskalasi perang di Timur Tengah.

Kementerian Luar Negeri Iran mengungkapkan bahwa tindakan tersebut merupakan respons pembalasan atas agresi militer dari Israel ke kantor konsulat Iran di Damaskus, Suriah pada 1 April 2024 lalu yang menewaskan tujuh Garda Revolusi Iran, termasuk dua jenderal.

Tensi geopolitik di timur tengah yang makin panas membuat para pelaku khawatir akan ada perang lebih besar yang dapat membuat ekonomi dunia makin terpuruk. Ini menimbulkan ketidakpastian di pasar.

Ketidakpastian dan ketegangan yang memuncak ini akhirnya membuat dolar AS sebagai salah satu mata uang yang dilirik pelaku pasar dan berujung pada capital outflow asing dari Indonesia atau pasar negara berkembang.

Berdasarkan data transaksi 1–4 April 2024 yang dirilis Bank Indonesia (BI), investor asing di pasar keuangan domestik tercatat jual neto Rp 8,07 triliun terdiri dari jual neto Rp 1,41 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), jual neto Rp 5,88 triliun di pasar saham, dan jual neto Rp 0,78 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Kendati demikian, BI mengemukakan bahwa akan terus hadir melakukan langkah-langkah konkret. Pertama, BI akan menjaga kestabilan rupiah melalui menjaga keseimbangan supply-demand valas di market melalui triple intervention khususnya di spot dan DNDF.

Kedua, BI meningkatkan daya tarik aset rupiah untuk mendorong capital inflow, seperti melalui daya tarik SRBI dan hedging cost. Ketiga, BI tetap koordinasi dan komunikasi dengan stakeholder terkait, seperti pemerintah, Pertamina, dan lainnya.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Naik 3 Hari Beruntun, Rupiah Sentuh Level Tertinggi 2 Bulan


(rev/rev)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *