Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah negara, termasuk India masih menggunakan batu bara sebagai pembangkit energi listrik. Sementara di negara lainnya telah mengurangi pembangkit listrik yang berasal dari bahan bakar fosil tersebut.

Mengutip New York Times, kapasitas global dalam menghasilkan listrik dari batu bara meningkat pada tahun 2023 yang didorong oleh gelombang pembangkit listrik baru. Hal itu mulai beroperasi di Cina yang bertepatan dengan melambatnya laju pemensiunan pembangkit listrik yang lebih tua di Amerika Serikat dan Eropa.

Temuan ini muncul dalam sebuah laporan tahunan dari Global Energy Monitor, yaitu sebuah organisasi nirlaba yang melacak proyek-proyek energi di seluruh dunia.

Jejak gas rumah kaca yang besar disebabkan oleh batu bara sehingga mendorong seruan agar batu bara segera dihapuskan sebagai sumber energi, dan semua negara di dunia telah sepakat untuk mengurangi ketergantungan mereka pada batu bara.

Namun, negara-negara industri, terutama di negara-negara Asia dengan akses murah ke cadangan batubara domestik, telah menetapkan jangka waktu yang lebih panjang untuk melakukan transisi.

Cina sendiri menyumbang dua pertiga dari pembangkit listrik tenaga batu bara yang baru beroperasi di dunia tahun lalu. Indonesia, India, Vietnam, Jepang, Bangladesh, Pakistan, dan Korea Selatan juga meresmikan pembangkit listrik baru, yang biasanya beroperasi selama dua hingga tiga dekade.

Salah satu penulis Flora Champenois mengatakan, salah satu hikmahnya adalah bahwa pembangkit listrik batu bara yang baru umumnya tidak terlalu berpolusi dibandingkan pembangkit listrik yang lama. Para ilmuwan, peneliti iklim dan aktivis sepakat bahwa peralihan dari batu bara, bahkan semua bahan bakar fosil, harus dilakukan sesegera mungkin untuk menghindari dampak yang lebih buruk dari pemanasan global.

“Saat ini, masa depan batu bara memiliki dua bagian cerita: Apa yang kita lakukan terhadap pembangkit listrik tenaga batu bara yang saat ini beroperasi, dan kemudian, bagaimana kita memastikan bahwa pembangkit listrik tenaga batu bara terakhir yang akan ada adalah pembangkit listrik yang telah dibangun,” ujarnya dikutip Jumat (12/4).

“Jika bukan karena ledakan di Cina, mungkin kita sudah berada di sini,” ungkapnya.

Pembangkit listrik bati bara di Cina saat pada tingkat yang lebih rendah. Sementara India, masih berencana untuk membangun PLTU Batubara beberapa tahun lagi.

Pada tahun 2023, pembangunan PLTU Batubara baru mencapai titik tertinggi dalam delapan tahun terakhir di Cina.

Jika Cina membangun semua pembangkit listrik yang telah diusulkannya, maka Cina akan menambah sepertiga dari armada yang beroperasi saat ini.

Saat ini, Cina menyumbang sekitar 60% dari penggunaan batubara dunia, diikuti oleh India dan kemudian Amerika Serikat. India sangat bergantung pada batu bara, dengan 80% pembangkit listriknya berasal dari batu bara.

Di sisi lain dari pertumbuhan batu bara disebabkan oleh melambatnya penghentian pembangkit listrik di negara-negara Barat. Ppembangkit listrik yang dinonaktifkan pada tahun 2023 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya dalam satu dekade terakhir.

Penghentian secara bertahap untuk semua pembangkit listrik tenaga batu bara yang beroperasi pada tahun 2040 mendatang akan membutuhkan penutupan rata-rata sekitar dua pembangkit listrik tenaga batu bara per minggu.

Para analis mengatakan bahwa perlambatan pada tahun 2023 mungkin hanya bersifat sementara, karena Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Uni Eropa telah menetapkan berbagai target untuk menutup semua PLTU Batubara yang ada sebelum tahun 2040.

Pemodelan Badan Energi Internasional menunjukkan bahwa, untuk menyelaraskan dengan tujuan membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri, negara-negara kaya harus menghentikan penggunaan batu bara pada tahun 2030 dan di seluruh dunia pada tahun 2040.

“Kami telah mengatakan bahwa tahun 2024 adalah tahun dimana batu bara akan mencapai puncaknya,” ujar Carlos Torres Diaz, wakil presiden senior di Rystad Energy.

“Namun saat ini, saya akan mengatakan bahwa kita tidak akan mencapai itu. Bagaimanapun juga, kami sudah dekat dengan itu,” ungkapnya.

Negara-negara Barat mengandalkan batu bara selama lebih dari satu abad, dan itulah sebabnya, sebagian besar emisi gas rumah kaca yang dihasilkannya merupakan bagian terbesar dalam sejarah.

Dalam upaya menyeimbangkan tanggung jawab keuangan untuk transisi energi, negara-negara kaya telah mengumpulkan puluhan miliar dolar dalam bentuk pinjaman kepada beberapa negara berkembang yang bergantung pada batu bara seperti Indonesia, Vietnam, dan Afrika Selatan untuk membantu mereka mengembangkan energi terbarukan agar dapat bertransisi lebih cepat dari batu bara.

Namun, untuk saat ini, sebagian besar dana tersebut masih belum dicairkan karena para pemangku kepentingan masih menyelesaikan perbedaan pendapat.

Bagi banyak negara berkembang, batu bara memiliki satu keuntungan utama yaitu karena harganya yang murah. Harganya juga terbukti tidak terlalu bergejolak dibandingkan dengan minyak dan gas, bahan bakar fosil utama lainnya yang digunakan dalam produksi listrik.

Bangladesh, misalnya, telah membangun kapasitas gasnya. Tetapi fluktuasi harga dan ketersediaan, yang sebagian besar berasal dari guncangan yang terkait dengan perang di Ukraina, telah mendorong pemikiran ulang dan investasi ulang dalam batubara.

Para analis juga menyebut, dinamika yang sama sampai batas tertentu juga terjadi di China. Dampak pandemi terhadap perekonomian RRT membuat perusahaan-perusahaan listrik di negara tersebut cenderung memilih bahan bakar yang paling murah, yaitu batu bara.

China juga memimpin dunia dalam hal ekspansi energi terbarukan. Pertumbuhan tersebut jauh melampaui pertumbuhan batu bara, dan dalam beberapa kasus terkait dengan pertumbuhan batu bara.

Pemerintah Cina mengatakan bahwa sebagian besar batu bara yang digunakan atau yang akan digunakan akan berfungsi sebagai cadangan ketika produksi energi terbarukan menurun dan jaringan listrik membutuhkan lebih banyak energi.

“Meskipun datanya belum sepenuhnya jelas dari China, ada kemungkinan bahwa meskipun mungkin ada lebih banyak pembangkit listrik tenaga batu bara, mungkin juga akan ada pemanfaatan yang lebih rendah,” kata Diaz.

“Namun dalam hal batu bara, mengingat Cina adalah bagian yang sangat besar, apa pun yang terjadi di sana akan menentukan tren global,” pungkasnya.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Garap Hilirisasi, Bumi Resources (BUMI) Gandeng Pemodal China


(fsd/fsd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *