Jakarta, CNBC Indonesia – Wall Street memberikan sirene tanda bahaya bahwa transisi ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) mungkin terhenti, meskipun ada miliaran dolar subsidi pemerintah dan investasi besar dari raksasa otomotif. Hal ini pun membayangi perusahaan EV terkemuka seperti Tesla.

Melansir The New York Times, angka penjualan terbaru Tesla menunjukkan bahwa kemunduran tersebut mungkin lebih buruk dari yang diperkirakan. Kemunduran ini pun dinilai sudah di luar kemampuan perusahaan untuk memperbaikinya.

Saham pembuat mobil EV tersebut turun hampir 5% pada hari Selasa, (2/4/2024) setelah melaporkan pengiriman 387,000 mobil di seluruh dunia pada kuartal pertama. Padahal, lembaga riset Evercore ISI memperkirakan pengiriman bisa sampai 443,000.

Hal ini menunjukkan penurunan penjualan kuartalan (qtq) pertama sejak tahun 2020. Kinerja suboptimal tersebut berkontribusi pada penurunan lebih dari 30% saham Tesla, menjadikannya salah satu saham dengan kinerja terburuk di S&P 500 tahun ini.

Tesla telah memperingatkan akan pertumbuhan bisnis yang “sangat rendah” tahun ini. Perusahaan ini menghadapi kemunduran termasuk dugaan serangan pembakaran di pabriknya di Jerman dan penundaan pengiriman karena gejolak di Laut Merah.

Sementara itu, suku bunga yang tinggi dan maraknya kendaraan listrik Tiongkok yang lebih murah melemahkan permintaan global dan menggerogoti pangsa pasar Tesla yang dulunya dominan.

Beberapa kritikus Elon Musk, termasuk Ross Gerber, seorang investor Tesla yang blak-blakan menyalahkan CEO perusahaan tersebut, dengan mengatakan bahwa kelakuan Elon Musk telah “benar-benar merusak merek”. Sementara Musk tidak banyak bicara tentang angka-angka Tesla, kecuali menyebut Gerber sebagai “idiot,” dan mencatat bahwa “ini adalah kuartal yang sulit” bagi semua pembuat EV.

Musk tidak salah dalam hal itu. BYD Tiongkok, yang sempat melampaui Tesla sebagai produsen mobil listrik nomor satu dunia, pada hari Selasa melaporkan penjualan sekitar 300,000 pada kuartal terakhir, naik 13% dari periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) tetapi turun secara kuartalan (qtq). Produsen mobil yang didukung Warren Buffett ini telah memperoleh pangsa pasar di Eropa dan Asia dengan menarik pembeli yang lebih sadar biaya, meskipun mereka tidak menjual mobil di AS karena adanya pengenaan tarif.

Sementara Kia, Toyota dan Volkswagen telah melaporkan pertumbuhan penjualan yang lebih baik, meskipun semuanya berasal dari basis yang lebih kecil dibandingkan Tesla atau BYD.

Analis khawatir bahwa permintaan EV mungkin semakin dingin. Kredit yang sempat jor-joran diberikan oleh pemerintah untuk pembeli mobil listrik di AS dan Eropa telah habis masa berlakunya dalam beberapa bulan terakhir. Dan kekhawatiran mengenai waktu pengisian daya dan jangkauan baterai mendorong sebagian konsumen untuk memilih kendaraan bermesin hibrida atau memilih kendaraan bertenaga bensin yang lebih murah.

Secara keseluruhan, penjualan EV tetap datar pada kuartal keempat tahun 2023, meskipun naik 40% secara tahunan. Tom Narayan, analis otomotif di RBC Capital Markets mengatakan kepada investor pada hari Selasa bahwa ini menunjukkan penurunan tajam dalam pertumbuhan.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Sebut Tesla-BYD, Ternyata Ini Alasan Erick Soal Akuisisi Vale


(fsd/fsd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *