Jakarta, CNBC Indonesia – Mata uang Garuda masih merana di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah rawan melemah menguji Rp16.000/US$.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan kemarin, Rabu (3/4/2024) di posisi Rp 15.915/US$ di pasar spot, melemah 0,13% dalam sehari.Pelemahan ini semakin memperpanjang tren depresiasi yakni lima hari beruntun danĀ  merupakan yang terparah sejak 1 November 2023.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI), Edi Susianto menjelaskan salah satu faktor yang membuat rupiah melemah yakni menurunnya optimisme pelaku pasar perihal pemangkasan suku bunga AS tahun ini.

Hal ini terjadi akibat kuatnya data ekonomi AS belakangan ini, khususnya dari inflasi AS yang mengalami kenaikan menjadi 3,2% (year-on-year/yoy) hingga data ketenagakerjaan yang masih cukup kuat ditandai dengan unemployment rate yang masih berada di angka 3,9%.

Daga pasar tenaga kerja juga akan semakin dengkapi dengan data klaim pengangguran mingguan untuk periode pekan yang berakhir 30 Maret 2024 pada nanti malam, Kamis (4/4/2024).

Data lain juga akan rilis hari ini yaitu neraca perdagangan dan data ekspor-impor AS periode Februari 2024 akan dirilis.

Konsensus pasar Trading Economics memperkirakan neraca perdagangan AS sedikit membaik dari periode Januari lalu yakni masih kontraksi US$ 67,3 miliar atau sekitar Rp 1.071,08 triliun (kurs US$ 1= Rp 15.915).

Neraca dagang AS patut dicermati lantaran negeri Paman Sam merupakan negara kedua setelah China dengan kontribusi nilai ekspor terbesar.

Selain faktor eksternal, pelemahan rupiah juga disebabkan oleh kondisi dalam negeri. Di antaranya adalah tingginya permintaan dolar AS menjelang lebaran, outflow di pasar Surat Berharga Negara (SBN) hingga inflasi yang kembali naik.

“Sementara dari domestik ada permintaan US$ terkait repatriasi dan masih outflow-nya asing di pasar SBN. Rilis data inflasi Indonesia kemarin yg di atas ekspektasi, yg banyak disebabkan oleh volatile food, ikut mendorong pelemahan rupiah,” imbuhnya.

Adapun perdagangan pekan ini tinggal dua hari lagi, sebelum libur panjang dalam rangka Lebaran Idul Fitri 1445 H. Sebelum libur panjang Lebaran, investor sepertinya mulai masif melakukan aksi profit taking, terutama di pasar saham RI.

Selain itu, dari sisi politik dalam negeri masih diselimuti sentimen sidang sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi.

Agenda hari ini adalah Pembuktian Pihak Terkait dari pasangan calon (paslon) Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganajr Pranowo-Mahfud MD.

Sidang MK akan sangat memanas dengan kedatangan saksi menteri. Ini adalah kali pertama sidang menghadirkan menteri yang akan menjadi saksi dan dimintai keterangan.

Teknikal Rupiah

Dalam basis waktu per jam, rupiah kini sedang menguji garis rata-rata selama 20 jam atau Moving Average (MA20) sebagai support. Jika garis MA20 belum bisa ditembus ke bawah maka rupiah masih akan melanjutkan tren pelemahan, terdekat potensi ke resistance di Rp15.945/US$.

Resistance tersebut diambil berdasarkan high candle yang pernah diuji pada perdagangan intraday kemarin, Rabu (3/4/2024). Sementara itu, jika garis MA20 mampu ditembus ke bawah maka potensi pembalikan arah menguat bisa terjadi, paling tidak ke support selanjutnya di MA50 atau di posisi Rp15.895/US$.

Pergerakan rupiah melawan dolar ASFoto: Tradingview
Pergerakan rupiah melawan dolar AS

CNBC Indonesia Research

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


The Fed Masih Hawkish, Akankah Rupiah Tahan Banting Hari Ini?


(tsn/tsn)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *